Mengapa Film Green Inferno Kontroversial?

Film The Green Inferno garapan Eli Roth, yang rilis pada tahun 2013 lalu, dinilai kontroversial dalam menggambarkan masyarakat Pribumi Amazon. Film tersebut membawa genre horor kanibal dengan memperlihatkan darah, penyiksaan dan adegan gore yang begitu masif. Meskipun menerima ulasan yang relatif beragam, sebagian penonton bersikap kritis terhadap isinya karena penggambaran penduduk asli yang mengerikan.

Cerita film ini mengikuti sekelompok aktivis sosial yang melakukan perjalanan ke hutan Amazon untuk menghentikan perusahaan besar yang ingin melucuti sumber daya alam hutan tersebut. Tak lama setelah kedatangan mereka, semuanya menjadi sasaran dari suku asli yang secara brutal menyiksa mereka. Suku asli itu kemudian memaksa mereka untuk makan daging manusia, dan akhirnya tubuh mereka dipotong-potong secara sadis.

Film ini bisa dibilang salah satu film kekerasan paling menjijikkan di abad ke-21. Roth memang dikenal sebagai sutradara yang kerap membuat film bergaya “torture porn,” sub-genre horor yang ekstrem. Film-film ini biasanya menggambarkan kekerasan yang berlebihan dengan tema seksualitas yang bercampur di dalamnya. Film yang dibuat oleh Roth hampir seluruhnya terdiri dari sub-genre ini, dengan film-film termasuk Hostel, Knock Knock, dan Cabin Fever.

Aksi kanibalisme yang ditampilkan dalam The Green Inferno tidak seperti yang lain dalam genre horor. Sejak 1970an, kanibalisme telah menjadi pokok film eksploitatif khususnya film dari Italia, dan Roth adalah penggemar film eksploitasi ini. Dirinya menggunakan film Death Game (1977) sebagai inspirasi di balik pembuatan film garapannya yang berjudul Knock Knock (2015). Meskipun film zombie umumnya didefinisikan sebagai bagian dari sub-genre kanibal, keduanya sangat berbeda. Sementara mayat hidup mendambakan daging manusia, kanibal membunuh dan memakan orang untuk bertahan hidup karena keinginan yang tidak dapat dijelaskan untuk melakukannya.

Beberapa film genre kanibal yang paling terkenal adalah waralaba Wrong Turn, tetapi dengan ketenaran mereka, waralaba tersebut tidak dianggap sebagai bagian dari sub-genre film kanibal eksploitatif. Roth dan pembuat film lainnya biasanya menggunakan masyarakat adat dalam film mereka, yang menghasilkan penggambaran yang tidak akurat dan salah tentang adat serta budaya tersebut. Terkadang, jenis film seperti ini memicu kontroversi, seperti halnya yang terjadi dengan The Green Inferno.

Film kanibal biasanya menampilkan isu sosial dan politik mengenai budaya di luar dunia pemikiran Barat. Dalam film The Green Inferno, saat sekelompok aktivis sosial, lulusan perguruan tinggi, berjuang untuk menyelamatkan hutan Amazon, dan melestarikan masyarakat yang tinggal di sana, itu akan dianggap sebagai premis cerita yang kritis. Namun apa yang terjadi, Roth menggunakannya untuk menyandingkan aliran pemikiran barat dengan masyarakat Pribumi Amazon lewat penafsiran aksi kanibalisme yang berlebihan.

Pada gilirannya, karakter-karakter tersebut mendapatkan identitas orang-orang “terpelajar”, sementara masyarakat Pribuminya tercoreng karena salah tafsir tersebut. Alih-alih bersimpati dengan Pribumi yang kehilangan tanahnya, kelompok aktivis ini malah diceritakan diserang oleh Pribumi Amazon, dan pada akhirnya film ini mencoba melakukan stigma kepada masyarakat suku asli sebagai “orang biadab.”

Di lain sisi, Roth sendiri telah membantah klaim yang seperti itu, dia memandang filmnya sebagai karya fiksi eksploitatif dengan menggambarkan masyarakat Pribumi fiksi. Meski begitu, apa yang dilakukan olehnya secara tidak langsung telah menjelekan para Pribumi Amazon sebagai sesuatu yang agresif, tidak berpendidikan, dan biadab. Masyarakat Pribumi di The Green Inferno menjadi gambaran yang mengerikan dan keliru tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam komunitas masyarakat tersebut.

(vitag.Init = window.vitag.Init || []).push(function(){viAPItag.display(“vi_1154943971”)})

Dalam The Green Inferno, Roth mencoba menunjukkan bahwa penjajahan itu buruk melalui sudut pandang kematian para anggota kelompok aktivits sosial. Tetapi, pendekatan yang dibuatnya itu ternyata tidak menarik simpati penontonnya. Pada akhirnya, film tersebut terlalu mengeksploitasi budaya, yang tidak diketahui langsung oleh sutradaranya, dan dimanfaatkan untuk tujuan eksploitasi industri film.